30 Mei 2017

744




"No, no, don't think of it as a cubicle. Think of it as a neutral-colored
enclosure about yay-high around your work space."

Oh, Jared... 

11 Mei 2017

743

Beberapa minggu yang lalu, saya berniat ke CFD. Tapi karena belok dulu ke acaranya Pustakalana di ITB, saya baru mencapai Dago sekitar pukul 09:50. Saat itu, CFD ternyata sudah bubar dan kendaraan kembali masuk ke Jalan Dago. Dan bukan cuma masuk, tapi juga dalam jumlah banyak dan melaju kencang, seolah-olah mengejar ketertinggalan kuota jalan yang ditutup selama (kurang dari) empat jam saja. Saya jadi bertanya-tanya, benarkah warga Bandung memang menginginkan kota untuk pejalan kaki?

Saya gak menemukan padanan kata yang tepat untuk walkable. Ramah pejalan kaki, mungkin, tapi apa sih ramah itu? Definisi Jeff Speck untuk walkable city lebih dari sekedar kota yang membuat orang bisa berjalan kaki, tapi juga mau dan menikmati berjalan kaki. Oleh karenanya Speck mengajukan empat syarat: bertujuan, aman, nyaman, dan menarik.
Saya gak akan membahas Walkable City-nya Speck sebagai ulasan buku, tapi lebih berusaha mengaitkannya dengan kondisi Kota Bandung. Untuk bahasan yang cukup ringkas dan jelas, artikel ini cukup mewakili.

Saya akan mulai dengan syarat nomer dua, aman. Apakah Bandung sudah aman untuk pejalan kaki? Saya akan jawab: belum. Banyak jalan di Bandung yang tidak memiliki trotoar, termasuk di antaranya jalan yang berfungsi sebagai jalan kolektor dan jalan lokal yang lalu-lintasnya padat. Seandainya ada trotoar, banyak yang sudah rusak. Beberapa tahun terakhir ini, cukup banyak perbaikan trotoar yang dilakukan di Kota Bandung. Hanya saja, perbaikan trotoar ini sebagian besar berpusat di jalan-jalan utama.


Kondisi trotoar bukan satu-satunya ancaman bagi pejalan kaki di Kota Bandung. Dari segi infrastruktur, hal lain yang kurang diperhatikan adalah tidak meratanya fasilitas menyeberang yang layak. Ini juga ditambah dengan kurangnya kesadaran pengguna jalan yang lain akan hak-hak pejalan kaki. Motor yang naik ke trotoar maupun mobil/motor yang tidak mau berhenti ketika ada pejalan kaki yang menyebrang di zebra cross bukan merupakan pemandangan yang langka.

Speck percaya bahwa jalan yang paling aman adalah jalan yang menimbulkan perasaan paling tidak aman bagi pengendara mobil. Pendapat ini sebagian adalah antitesis dari rekayasa lalu lintas di berbagai kota di Amerika: buat jalan yang lebar, hilangkan hambatan untuk pengemudi, dan buat batasan yang tegas antara area pengemudi dan pejalan kaki, maka pejalan kaki akan terlindungi. Nyatanya, menurut Speck, di jalan-jalan seperti ini (umumnya di daerah suburban) perasaan aman membuat mobil melaju dengan kecepatan tinggi sehingga lebih membahayakan bagi pejalan kaki ketimbang jalan-jalan yang sempit yang membuat pengemudi terpaksa memperlambat laju kendaraannya. Paling ekstrim, Speck memuji inisiatif jalan bugil, jalan tanpa rambu-rambu lalu lintas. Cara ini diklaim mengurangi kemacetan dan jumlah kecelakaan, serta membuat pengguna jalan lebih menghormati satu sama lain.

#iyain aja deh.

Menurut saya, ideal yang diajukan Speck mensyaratkan semua pengguna jalan mengetahui hak dan kewajibannya, termasuk etika perilaku dan hirarki prioritas di jalan. Ditambah penegakan hukum yang konsisten. Tanpa judul jalan bugil, banyak jalan di Indonesia yang tidak dilengkapi rambu-rambu yang memadai. Hasilnya kacau-balau. Yang membuat sedikit teratur biasanya solusi khas Indonesia juga: polisi cepek. Dan dalam situasi seperti ini, keselamatan pejalan kaki bahkan tidak masuk pembahasan.



Salah satu konsep utama Speck adalah useful walk—jalan yang bermanfaat. Dan yang membuat jalan menjadi bermanfaat adalah ketika kita menuju suatu tempat, bukan berjalan sekedar berjalan tanpa tujuan. Nampak jelas tapi mungkin contohnya seperti ini: Bandingkan jika kita harus berjalan sejauh 200 m di tengah hari, mana yang lebih mudah, menuju kantin untuk makan siang atau sekedar berjalan untuk menjaga kebugaran? Selanjutnya, Speck juga merekomendasikan untuk menciptakan pengalaman berjalan yang menarik, dengan membuat jalan yang ramah dan unik. Dan, percaya atau tidak, saya berkeyakinan Bandung cukup punya modal untuk memenuhi kedua syarat ini.

Di Amerika, menurut Speck, sering terdapat pembagian yang tegas bahwa suburban hanya untuk pemukiman dan pusat kota untuk kegiatan komersial. Implikasinya, untuk bersantap di restoran atau sekedar berbelanja kebutuhan sehari-hari, penghuni suburban harus mengendarai mobilnya ke pusat kota. Sebaliknya di Bandung, jarak antar minimarket saja bisa kurang dari 100 m. Kantin bahkan restoran bisa muncul diapit rumah tinggal di kiri-kanannya. Ini mungkin buah ketidaktegasan perihal tata ruang, yang jelas fungsi kawasan yang beragam seharusnya mendorong orang untuk berjalan kaki.

Lalu, kenapa ini tidak terjadi? Menurut saya ada beberapa alasan. Di satu pihak, Bandung kekurangan trotoar. Di lain pihak, pendekatan yang terlalu berpusat pada infrastruktur (dan, diakui saja, kosmetika) juga mengabaikan satu hal penting. Indonesia, Bandung, terletak di daerah tropis. Hal ini sangat jelas sehingga kerap diabaikan. Untuk membuat orang berjalan, khususnya di siang hari, diperlukan peneduh. Lebih mudah membuat orang berjalan di jalan yang teduh tanpa trotoar, ketimbang jalan bertrotoar tanpa peneduh. Speck juga merekomendasikan pohon sebagai salah satu penunjang kenyamanan.

Pendekatan infrastruktur juga mencuatkan istilah panca trotoar, fasilitas-fasilitas yang harus ada di trotoar untuk menciptakan ruang interaksi yang ramah pejalan kaki. Sayangnya, penempatan panca trotoar kerap mengganggu fungsi utama trotoar itu sendiri.

Jarak tetap menjadi batasan untuk kesediaan orang berjalan kaki. Oleh karenanya, transportasi umum yang dapat diandalkan merupakan syarat kota yang ramah pejalan kaki. Kualitas transportasi umum di Kota Bandung saat ini masih jauh dari memuaskan, satu pekerjaan rumah lagi untuk mewujudkan kota yang ramah pejalan kaki.

Yang terakhir adalah pemberdayaan sektor informal. Di awal-awal tahun 2000-an, Dago malam minggu merupakan salah satu hiburan bagi saya karena banyak kegiatan-kegiatan kecil yang seru berlangsung di sana. Jauh sebelumnya, Bandung mengenal pengamen kecapi legendaris Braga Stones. Di Braga dan daerah sekitar Asia-Afrika dan alun-alun sekarang, yang sering dijumpai adalah "pengamen" kostum, mulai karakter kartun hingga beragam jenis hantu, yang menerima imbalan sekedarnya untuk foto bersama.

Foto diambil dari Kompas

PKL adalah salah satu sektor informal yang paling dianggap sebagai pengganggu ketertiban trotoar. Memang benar, PKL kerap menghalangi trotoar. Dan sayangnya juga, jumlah mereka terlalu banyak. Namun sesungguhnya, jika ditata, PKL dapat menjadi faktor yang membuat perjalanan di trotoar menjadi menarik sekaligus bermanfaat. Kota-kota besar seperti New York pun masih "memelihara" "PKL" di trotoarnya (New York merupakan salah satu contoh kota walkable versi Speck).

Lapak PKL di Cihampelas, 21 Februari 2017
Tangkapan layar GoogleMaps, 11 Mei 2017 15:39

Penataan ini tentunya selain tidak bisa setengah-setengah, juga harus partisipatif. Teras Cihampelas bisa menjadi pelajaran senilai 48 milyar. Memindahkan PKL ternyata tidak serta-merta mengatasi kesemrawutan Cihampelas. Saat ini sudah banyak PKL kembali berjualan di Cihampelas, karena memang di sana pasar mereka. Kemacetan pun tidak banyak berkurang. Pejalan kaki yang hanya ingin melintas pun tidak terbantu dengan adanya Teras Cihampelas.



Tahun 2013 saya berkunjung ke Ghent, Belgia. Tidak ada pengalaman luar biasa yang saya dapatkan di kota itu. Hanya saja, bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu kalau pusat kota Ghent adalah daerah bebas kendaraan bermotor. Car free day tujuh hari dalam seminggu! Berjalan kaki ternyata begitu alamiah, begitu tanpa-usaha, sehingga saya bahkan tidak menyadarinya. Meskipun demikian, untuk bisa sampai di posisi Ghent, sungguh panjang jalan yang masih harus ditempuh.

02 April 2017

742

He works.

He really really works. I'm, of course, talking about Donald Glover.

I love 30 Rocks. I'm not really into rap/hiphop but I dig some of Childish Gambino's songs. But I really, absolutely adore Troy Barnes. And Troy has so much Donald in him. And Dan Harmon and Chris McKenna love him they returned to Community on the condition that Donald was on board.

So yeah, I had high hopes for Atlanta. That's why it was a bummer that I struggled through the first three episodes. I blamed it on Donald wants to make people feel black. And yeah, despite many critics praises, the show was called challenging and even surreal.


Leaving my comfort zone (these days it's Castle), I continued watching and I started getting the hang of Earn and the other characters. And the next thing I know I was on the last episode and it was brilliant. And I felt I was missing out. I had gaps to fill and questions need answers. So I started watching again from the first episode.

It might be wishful thinking but I enjoyed the rewatch. The show is smart—whatever that means. (You can say it's smart unlike Silicon Valley is smart because it's filled with nerdy jokes, but smart as the characters make dead-point remarks on some issues and that Earn is a Princeton drop out and all that. That too, but it's more than that) It's beautifully shot (Hiro Murai directs music videos, including Chlidish Gambino's) with details that are easily overlooked on casual watching. It is surreal but grounded—if that makes any sense at all. Earn is surely not Troy, but there is sincerity that I love about Troy emanates from Earn. I had a few LOL moments but in general the comedy is subtle. Donald being a stand up comedian and his constant one-liner in Community sort of prepare you for 'something broader, more accessible and overtly comedic', but Atlanta is just... that. And I'm content with that just like Earn is content of what he becomes in the finale.


And the music, of course, is just perfect

14 Maret 2017

741

Beberapa waktu yang lalu, angkot (angkutan kota) se-Bandung Raya mogok massal.

Foto diambil dari sini.

Mereka berunjuk rasa atas maraknya angkutan online yang menggerus pendapatan mereka. Banyak pengguna kendaraan pribadi dan angkutan online bersorak-sorai gembira karena seharian banyak jalan yang biasanya macet menjadi agak longgar. Sebaliknya banyak pengguna angkot terpaksa diangkut polisi atau Pak Camat, naik taksi atau ojek baik online maupun konvensional, naik kendaraan pribadi, berjalan kaki, atau bahkan batal bepergian sama sekali.

Bukan sekali ini saja angkot Bandung mogok. Dan bukan sekali ini juga sorak-sorai dan seruan agar angkot dihilangkan saja menyeruak. Sebagai awam dan pengguna angkot, pandangan saya tentu bias. Tapi saya ingin para penentang angkot sedikit saja mempertimbangkan hal-hal berikut ini.


Yang Pertama Adalah Angkutan Umum
Setiap kota yang fungsional membutuhkan angkutan umum yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan. Angkutan umum memungkinkan efisiensi penggunaan jalan—yang artinya menghindarkan kemacetan dan pencemaran udara—sekaligus memeratakan akses mobilitas.

Apakah angkot di Bandung sudah memenuhi fungsi-fungsi di atas? Memang belum sepenuhnya, tapi juga bukannya tidak sama sekali. Angkot di Bandung memang memiliki sederet masalah: sering ngetem sembarangan, supir ugal-ugalan, tarif tidak jelas, penumpang naik-turun seenaknya, dan rute yang sudah tidak mengakomodir pergerakan warga. Tapi pada kenyataannya, saat ini angkutan umum yang tersedia di Bandung hanyalah bus kota dan angkot. Jangkauan angkot saat ini lebih luas dari bus yang rutenya masih terbatas. Dengan segala kekurangannya, inilah angkutan umum yang dimiliki Bandung sekarang.


Kenapa Harus Angkot?
Sebenarnya dengan prinsip di atas, ya nggak harus angkot juga sih. Tapi ada beberapa alasan mengapa menurut saya, jika dilakukan pembenahan, angkot masih layak dipertahankan.

Pertama, biaya pembenahan angkot lebih kecil dibandingkan pengadaan angkutan umum yang lain. Setidaknya pembenahan angkot hanya memerlukan sedikit perbaikan/pembangunan infrastruktur berupa halte—yang bahkan bisa ditekan dengan hanya membuat penanda seperti di gambar ini. Oya, dan perbaikan trotoar, tapi apapun angkutan umumnya, trotoar tetap harus diperbaiki. Mobil-mobil memang harus diremajakan, tapi bisa dilakukan bertahap. Jika konversi tiga-angkot-menjadi-satu-bus jadi dilakukan, angkot-angkot yang sudah uzur bisa didahulukan.

Yang jauh lebih sulit dibandingkan pembangunan infrastruktur adalah pembenahan sistem. Sebagian perilaku angkot yang menyebalkan disebabkan karena angkot masih menganut sistem kejar setoran. Jika supir angkot digaji per km perjalanan (idealnya oleh pemerintah), perilaku seperti ngetem atau ugal-ugalan bisa dihindarkan. Kendalanya, kepemilikan angkot di Bandung tersebar. Perlu komunikasi yang baik untuk menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak. Rute angkot yang berlaku saat ini juga harus dikaji ulang dan disesuaikan dengan pola pergerakan penumpang mutakhir. Dan yang tidak kalah penting adalah "mendidik" penumpang (selain supir) untuk disiplin naik-turun di halte.

Ke depannya, tentu, Bandung harus bergerak ke arah transportasi massal yang lebih efisien. Pemkot sudah mencanangkan konversi tiga angkot menjadi satu bus, yang mudah-mudahan terlaksana tahun ini. Jikapun terlaksana, PR-PR yang menumpuk dari pembenahan angkot tidak serta-merta hilang dengan konversi menjadi bus. Rute tetap harus dikaji ulang. Penumpang dan supir tetap harus dididik. Dan seandainya ada (banyak) supir yang kehilangan pekerjaan, dampak sosialnya tetap harus ditangani.

Dan bicara soal angkutan umum massal, walaupun selalu bagus di atas kertas, modal yang besar ditambah rekam jejak pembangunannya di Indonesia layak membuat kita berhati-hati. Masih ingat monorail Jakarta yang mangkrak? Bahkan pembiayaan LRT Jabodetabek sempat tersendat, walaupun akhirnya dicapai kesepakatan. Tapi yang patut dicermati juga adalah integrasi antarmoda. Lagi-lagi kasus Jakarta layak menjadi pelajaran. Jangan sampai alih-alih menjadi solusi, Bandung menjadi centang-perenang dengan berbagai angkutan yang tidak terintegrasi. Dan alasan kedua mengapa angkot masih dibutuhkan: banyak jalan di Bandung yang sempit dan pendek, tidak memungkinkan untuk kendaraan berukuran besar. Oleh karenanya angkot harus diarahkan untuk melayani jalan-jalan ini, sekaligus menjadi pengumpan untuk angkutan umum massal yang beroperasi di jalan-jalan utama.


Lalu Apa yang Salah dengan Angkutan Online?
Jika angkutan online digunakan sebagai suplemen untuk ceruk pasar yang tidak terjangkau angkutan umum, sebenarnya tidak masalah. Tapi perlu digarisbawahi bahwa taksi dan ojek, baik online maupun konvensional, bukan angkutan umum. Semangat awal angkutan online adalah ekonomi berbagi, mengoptimalkan kendaraan yang "menganggur" sehingga bisa dipakai orang yang tidak memiliki kendaraan. Seharusnya skema ini bisa mengurangi jumlah kendaraan yang beredar. Nyatanya yang terjadi adalah peningkatan penjualan kendaraan untuk ditaksikan/diojekkan.

Semakin banyak orang yang mengabaikan kendaraan umum untuk angkutan online (dan kendaraan pribadi), semakin kita menuju situasi yang mirip tragedi kepemilikan bersama. Sumber daya yang diperebutkan adalah jalan umum yang kapasitasnya terbatas, dan setiap orang berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin tanpa memedulikan kebutuhan orang lain. Hal ini sudah jamak terjadi di daerah-daerah tanpa angkutan umum yang memadai. Sungguh sayang jika ini terjadi di Bandung yang setidaknya memiliki angkutan umum walaupun banyak kekurangan.

___________________
PS: Ada banyak hal yang tidak terbahas dalam tulisan ini, tapi setidaknya ada dua hal yang menjadi catatan. Pertama, aksi mogok angkot vs angkutan online sebenarnya terjadi di beberapa kota, namun tulisan ini hanya berfokus pada Bandung. Situasi di kota lain tentunya berbeda.
Kedua, saya tidak membahas tentang ketidakadilan ekonomi yang setidaknya punya dua dimensi: angkutan online tidak bisa menjangkau semua orang karena tidak semua orang memiliki akses, dan ketidaksetaraan persaingan karena subsidi masif yang diterima angkutan online untuk merebut pasar. Beberapa bacaan menarik:
- What if Uber kills off public transport rather than cars?
- Uber Actually Makes Public Transit Better, But Mostly for the Rich
- “They Can Just Take an Uber”

03 Maret 2017

740

Di dekat kantor saya ada tukang nasi kuning. Lumayan enak. Saya kadang-kadang beli sebungkus kalau belum sarapan. Tapi di saat saya gak butuh sarapan, keberadaan tukang nasi kuning itu lebih sering membuat saya kesal. Bukan apa-apa. Jualannya di pinggir jalan dengan pembeli yang duduk memenuhi trotoar. Kadang-kadang saya mengalah dan turun ke jalan. Akhir-akhir ini saya gak mau mengalah, cuek saja lewat tanpa permisi di depan orang-orang yang sedang makan, kalau perlu menggeser-dengan-kaki-setengah-menendang kursi plastik yang menghalangi jalan.

Tindakan saya itu, menurut etiket yang diajarkan orang tua saya, sangat tidak sopan. Saya sadar sih, dan saya nggak akan melakukannya di restoran atau tempat lain yang memang diperuntukkan untuk duduk. Masalahnya fungsi trotoar bukan untuk diduduki melainkan tempat orang berjalan kaki. Begitu menurut KBBI dan rasanya menyebalkan sekali bahwa saya harus menggunakan kamus untuk sesuatu yang harusnya sudah diketahui setiap orang dari segala usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pilihan gubernur DKI.


Jadi saya tidak sopan, tapi saya merasa berhak untuk tidak sopan terhadap orang-orang yang melanggar hak saya.

Benarkah?

Berapa sering kita mendengar alasan "Ah yang nyontek/curang/korupsi/salam-tempel/buang-sampah-sembarangan/naik-motor-tanpa-SIM juga banyak, kenapa saya gak boleh?" Ketika orang lain melanggar aturan, sebagian dari kita merasa berhak melakukan pelanggaran yang sama. Dan ketika hak kita dilanggar, sebagian dari kita merasa berhak balas melanggar hak orang lain.

Empati. Ketika hak kita dilanggar, kita jadi kehilangan empati. Padahal di situlah nilai kita sebagai manusia. Buah simalakamanya, duduk di tengah trotoar pun salah satu bentuk kehilangan empati. Dan seandainya saya memilih turun ke jalan, mudah membayangkan kekesalan pengguna jalan lain yang haknya saya langgar sementara saya sendiri kesal karena harus membahayakan  diri saya gara-gara sekelompok orang ingin sarapan nasi kuning di trotoar.

Empati bisa dimulai dari menaati aturan, atau bahkan menaati definisi KBBI. Terdengar super membosankan, memang. Mungkin juga sulit dibuktikan sampai aturan itu dilanggar dan rekening empati kita menjadi defisit secara berjamaah.

23 Oktober 2016

739

Gambar nemu di google, aslinya karya siapa-lagi-kalau-bukan
Agan Harahap, tapi sepertinya sudah dihapus.
Tahun 2008, seorang politisi Belanda berambut aneh dengan nama Geert Wilders merilis sebuah film pendek berjudul Fitna. Film ini menggambarkan Islam sebagai agama haus darah dan ayat-ayat Al Quran menganjurkan kekerasan. Karena film ini, pada tahun 2009 Wilders diadili dengan tuduhan diskriminasi dan menyulut kebencian. Setahun kemudian, suara Partai Kebebasan (PVV) yang dipimpin Wilders melonjak menjadi 15,5% (24 kursi parlemen) dari hanya 5,9% suara (9 kursi parlemen) di taun 2006. Apakah masyarakat Belanda setuju dengan Wilders, atau Islamofob, atau bahkan xenofob (karena Wilders bersuara keras pada imigran pada umumnya)? Sebagian besar yang saya tahu sangat toleran terhadap perbedaan. Suara PVV melonjak karena masyarakat Belanda juga sangat menghargai hak berpendapat bebas (sekonyol apapun pendapat itu), dan pengadilan terhadap Wilders merupakan ancaman terhadap hak tersebut. (1)

KTP saya Bandung. Ke Jakarta hanya sesekali, itupun seputaran Sudirman-Thamrin atau melipir tol lingkar luar. Saya gak mempertaruhkan apapun dalam pemilihan gubernur Jakarta, selain bahwa Jakarta adalah ibukota Indonesia dan mungkiiin menjadi acuan bagi daerah-daerah lain (iya gitu?) Tapi siapa sih di Republik ini yang punya akses internet dan/atau menonton televisi yang bisa menghindar dari hiruk-pikuk pilgub Jakarta? Dan bahwa pilgub ini citarasanya sungguh mirip pilpres 2014 hingga bahkan seorang teman beropini bahwa pandangan politik orang Indonesia sudah mengeras jadi dua kutub (2), tentunya sulit diabaikan. Karena mengganggu. Sangat. Sehingga saya memutuskan ikut berpendapat untuk sekedar bersih-bersih otak. Di sini saja karena blog ini sudah jarang diperbarui, apalagi dibaca. Nggak konsisten? Memang, karena bukankah setiap orang akan standar ganda pada waktunya?

Dulu sih saya pernah berpendapat kalau seorang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa jadi presiden, artinya Indonesia sudah selesai sebagai negara. Selesai dalam artian positif, sudah bisa mengatasi perbedaan hal-hal remeh-temeh seperti SARA, dan siap mengurusi kesejahteraan rakyat atau mengirim atlet ke Olimpiade Musim Dingin. Prasyarat dari pendapat saya itu adalah Ahok memang kompeten sebagai seorang pemimpin. Akhir-akhir ini, kompetensi itu saya ragukan. Alasannya ada dan panjang dan saya malas membahasnya di sini. Tapi kalau saya punya KTP Jakarta dan pilgub diadakan sekarang, kemungkinan saya gak akan memilih Ahok. Bukan karena dia Cina, bukan karena dia Kristen, tapi karena saya meragukan kemampuannya membuat Jakarta lebih baik untuk jangka panjang atau, setidaknya selama masa kepemimpinannya.

Tapi lalu saya kesandung tulisan ini di facebook. Intinya Ahok layak dipilih setidaknya untuk menguji kesiapan kita menerima perbedaan, atau istilah beliau, menguji kapasitas multikulturalisme. Seperti rakyat Belanda yang memilih Wilders untuk membela ideal yang lebih tinggi, sekalipun kurang kompeten Ahok layak dipilih demi 'menyelesaikan' Indonesia (3).

Saya setuju gagasannya. Tapi sedih juga. Betapa kita ternyata masih jauh dari 'selesai'. Baik dari segi memilih pemimpin yang kompeten maupun dari segi menerima perbedaan. Dan pada akhirnya tulisan ini pun tidak jadi apa-apa, karena saya bukan warga Jakarta.
__________________________________
(1) Akhir bulan ini, Wilders akan kembali diadili dengan tuduhan yang sama. Sejarah akan berulang?
(2) Saya gak setuju sih soal dua kutub ini. Dan mudah dibuktikan. Tahun 2014 saya pilih Jokowi kok.
(3) Dan untuk 'ormas Islam' yang ribut mau menuntut Ahok karena penistaan agama, percaya deh kalo keberisikan kalian itu pada akhirnya akan lebih menguntungkan Ahok. Walaupun SBY yang menulis buku petunjuk Bagaimana Memenangkan Pemilu dengan Berperan Sebagai Korban, kali ini bukan Agus Yudhoyono yang akan mempraktekkannya.

27 Juni 2016

738


(SPOILER ALERT)

I almost cried seeing this scene last week. Or maybe I did. Richard Hendricks, after finally being the CEO of the company of his dream and launching a product that he was proud of, crouched on a not-so-clean bathtub, hiding from the fact that his platform was too advanced for average users. The sad thing is, this one was on him. You can blame almost everything that happened to him on someone else: Gavin Belson, Russ Hanneman, Action Jack Barker, even his accidentally talking to Code/Rag's CJ was partially Laurie Bream's fault. But he massaged his ego, failed to take into account Monica's input, and finally launched a platform that may or may not be Skynet, that was definitely on him.

Some people say that Silicon Valley is the nerdy version of Entourage, except that nothing's working out in Silicon Valley. That is probably 90% accurate. It seems like the creators (I'm using this term loosely) like to punish Richard—see above. But most of the time you can see it coming, not because it happens so many times, but because no actions without consequences in this show.

Post-Community, Silicon Valley is so far the only sitcom that meets my renewed standard. Not only it's funny but it is also—like Community—believable. Okay, there are some details that are not quite right for the sake of the story but overall I buy the idea. Or the characters, to be precise.

Richard is of course the key. You see him evolving from this nice guy ("Richard, if you're not an asshole, it creates this kind of asshole vacuum and that void is filled by other assholes"), to a guy who reluctantly took the left hand path, to post R.I.G.B.Y, and finally to a guy who messed up Hooli's system (or Gavin Belson's laptop). Richard is maybe this stereotypical geek who becomes highly inarticulate when he's nervous, but aren't we all (I know I do). He failed to score a girl not because he was incapable socially, but because he was a formatting Nazi about tab vs space that, as unbelievable as it may sound, does exist. The point is, Richard and all the characters are treated with respect, even when the characters are borderline caricatures like Erlich or Gavin. And that attitude, that respect, enables the geekiest d*ck joke of all time.


PS: My favorite character in Season 3 is Jared. Laurie is a close second. I hope she still makes appearances in Season 4.